PENGALAMAN
PRIBADI
15 juni 2015
Kejadian ini terjadi pada malam rabu ketika besoknya kita selalu
menyebut dengan *munggahan atau terakhiran sebelum memasuki bulan ramadhan.
Malam itu menjadi malam yang sangat menakutkan bagi saya. Karena malam itu
sebuah musibah menimpa saya, dimana menyebabkan saya harus di operasi kecil di
salah satu Rumah Sakit Tasikmalaya . Ketika itu saya sedang menonton salah satu
acara di televisi bersama keluarga. Acara tersebut menayangkan bagaimana tata
cara berhijab yang sedang trend pada masa itu. Karena saya suka dandan dan suka
merias-rias hijab, saya pun tertarik untuk mencobanya. Dan akhirnya saya pun
mencoba meniru cara berhijab tersebut.
Pada percobaan pertama saya berhasil dan saya menunjukan hasil tiruan
saya kepada mama dan nenek. Mereka pun memuji saya karena saya dapat meniru
gaya hijab tersebut. Tapi naas, pada percobaan kedua inilah yang mengharuskan
saya dilarikan ke Rumah Sakit. Ketika saya menirukan gaya berhijab kedua ini
saya menggigit jarum pentul yang akan dipakai untuk hijab tersebut. Saat saya
menggigit jarum pentul itu saya batuk dan dengan tidak sadar jarum yang saya
gigit masuk ke tenggorokan. Pada awalnya saya mencari-cari jarum tersebut
dilantai, tetapi hasilnya nihil saya tidak menemukannya sama sekali. Dan saya
tersadar kalau jarum tersebut masuk ke tenggorokan saat saya terbatuk dan
tenggorokan saya terasa sakit. Saya pun tersadar bahwa jarum tersebut masuk ke
tenggorokan. Dengan panik dan menjerit histeris saya pun keluar kamar dan
mengatakan bahwa jarum pentul telah masuk ke tenggorokan saya. Mama dan nenek
yang sedang menonton televisi pun sontak kaget dan segera keluar rumah untuk
mencari pertolongan. Tak lama kemudian tetangga berdatangan ke rumah saya untuk
melihat apa terjadi. Saya menangis sangat kencang dan moncoba untuk terus batuk
berharap agar jarum itu bisa keluar lagi. Tapi usaha saya tidak berhasil sama
sekali. Akhirnya salah seorang tetangga mengusulkan untuk saya dibawa ke Rumah
Sakit tak lama kemudian saya pun dilarikan ke Rumah Sakit tepat pukul 19.25
WIB.
Saya pergi ke Rumah Sakit dengan diantar paman dan bibi, karena waktu
itu adik saya masih sangat kecil dan tidak bisa dibawa. Diperjalanan bibi tak
henti-hentinya menagisi saya. Ia sangat panik karena kejadian ini menimpa saya.
Setelah sampai di Rumah Sakit, saya kira saya akan langsung ditangani. Tetapi
pada kenyataannya, saya malah didiamkan dan menunggu sampai berjam-jam lamanya.
Coba saja kalian bayangkan betapa kesalnya saya, dengan kondisi jarum pentul
menancap di tenggorokan, saya malah didiamkan. Entah itu sengaja atau pun
memang peraturannya seperti itu, tetapi rasa kesal tak dapat saya pungkiri.
Karena di Rumah Sakit pun tak mendapatkan pertolongan saya pun akhirnya pulang
terlebih dahulu. Satu malam saya tidak bisa tidur karena kondisinya dengan
jarum yang masih ada di tenggorokan. Sedih, sangat sedih saya rasakan pada
malam itu. Hal yang biasanya saya lihat di televisi, kini malah terjadi
pada diri saya sendiri.
Pada siang harinya, 16 juni 2015 saya kembali lagi ke Rumah Sakit. Yang
membuat saya sedih adalah saya tidak makan dan minum selama 1hari 2malam. Bisa
dibayangkan betapa kosongnya perut saya. Jangankan untuk makan dan minum,
menelan ludah saja pun saya tak berani karena saya takut jika jarum itu terus
ke bawah menusuk tenggorokan saya. Banyak proses yang harus saya lakukan
sebelum akhirnya di operasi kecil. Mulai dari pemeriksaan awal, di ronsen,
pengambilan darah dan masih banyak lagi. Semua proses saya lakukan dengan
keadaan jarum masih ada di tenggorokan. Ronsen pertama jarum masih ada di
tenggorokan dengan posisi yang tumpul diatas tepat sangat lurus, tetapi ronsen
kedua menunjukan kalau jarum sudah mendekati paru-paru dan posisi yang miring.
Saya takut sekali jika makin lama jarum tersebut ada di tenggorokan
saya, malah akan menyebabkan hal yang lebih besar lagi. Tapi untunglah saya
berhasil ditangani oleh para dokter itu. 4jam lamanya saya berada diruang
operasi, dan alhamdulillah akhirnya jarum tersebut bisa dikeluarkan. Saya
sangat bersyukur karena Alloh swt. memberi saya keselamatan dalam menjalani
operasi. Karena kejadian itu, hingga saat ini saya menjadi phobia terhadap
jarum pentul. Meskipun kejadiannya sudah sangat lama, tapi saya masih dapat
merasakan bagaimana sakitnya saat jarum itu menusuk-nusuk tenggorokan saya.
Note : Saya harap ini menjadi
pembelajaran pada yang membaca untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan jarum
pentul, sebaiknya jangan digigit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar