SpongeBob 3

Jumat, 01 Maret 2019

PENGALAMAN PRIBADI
15 juni 2015
    Kejadian ini terjadi pada malam rabu ketika besoknya kita selalu menyebut dengan *munggahan atau terakhiran sebelum memasuki bulan ramadhan. Malam itu menjadi malam yang sangat menakutkan bagi saya. Karena malam itu sebuah musibah menimpa saya, dimana menyebabkan saya harus di operasi kecil di salah satu Rumah Sakit Tasikmalaya . Ketika itu saya sedang menonton salah satu acara di televisi bersama keluarga. Acara tersebut menayangkan bagaimana tata cara berhijab yang sedang trend pada masa itu. Karena saya suka dandan dan suka merias-rias hijab, saya pun tertarik untuk mencobanya. Dan akhirnya saya pun mencoba meniru cara berhijab tersebut.

    Pada percobaan pertama saya berhasil dan saya menunjukan hasil tiruan saya kepada mama dan nenek. Mereka pun memuji saya karena saya dapat meniru gaya hijab tersebut. Tapi naas, pada percobaan kedua inilah yang mengharuskan saya dilarikan ke Rumah Sakit. Ketika saya menirukan gaya berhijab kedua ini saya menggigit jarum pentul yang akan dipakai untuk hijab tersebut. Saat saya menggigit jarum pentul itu saya batuk dan dengan tidak sadar jarum yang saya gigit masuk ke tenggorokan. Pada awalnya saya mencari-cari jarum tersebut dilantai, tetapi hasilnya nihil saya tidak menemukannya sama sekali. Dan saya tersadar kalau jarum tersebut masuk ke tenggorokan saat saya terbatuk dan tenggorokan saya terasa sakit. Saya pun tersadar bahwa jarum tersebut masuk ke tenggorokan. Dengan panik dan menjerit histeris saya pun keluar kamar dan mengatakan bahwa jarum pentul telah masuk ke tenggorokan saya. Mama dan nenek yang sedang menonton televisi pun sontak kaget dan segera keluar rumah untuk mencari pertolongan. Tak lama kemudian tetangga berdatangan ke rumah saya untuk melihat apa terjadi. Saya menangis sangat kencang dan moncoba untuk terus batuk berharap agar jarum itu bisa keluar lagi. Tapi usaha saya tidak berhasil sama sekali. Akhirnya salah seorang tetangga mengusulkan untuk saya dibawa ke Rumah Sakit tak lama kemudian saya pun dilarikan ke Rumah Sakit tepat pukul 19.25 WIB.

    Saya pergi ke Rumah Sakit dengan diantar paman dan bibi, karena waktu itu adik saya masih sangat kecil dan tidak bisa dibawa. Diperjalanan bibi tak henti-hentinya menagisi saya. Ia sangat panik karena kejadian ini menimpa saya. Setelah sampai di Rumah Sakit, saya kira saya akan langsung ditangani. Tetapi pada kenyataannya, saya malah didiamkan dan menunggu sampai berjam-jam lamanya. Coba saja kalian bayangkan betapa kesalnya saya, dengan kondisi jarum pentul menancap di tenggorokan, saya malah didiamkan. Entah itu sengaja atau pun memang peraturannya seperti itu, tetapi rasa kesal tak dapat saya pungkiri. Karena di Rumah Sakit pun tak mendapatkan pertolongan saya pun akhirnya pulang terlebih dahulu. Satu malam saya tidak bisa tidur karena kondisinya dengan jarum yang masih ada di tenggorokan. Sedih, sangat sedih saya rasakan pada malam itu. Hal yang biasanya saya lihat di televisi, kini malah  terjadi pada diri saya sendiri. 

    Pada siang harinya, 16 juni 2015 saya kembali lagi ke Rumah Sakit. Yang membuat saya sedih adalah saya tidak makan dan minum selama 1hari 2malam. Bisa dibayangkan betapa kosongnya perut saya. Jangankan untuk makan dan minum, menelan ludah saja pun saya tak berani karena saya takut jika jarum itu terus ke bawah menusuk tenggorokan saya. Banyak proses yang harus saya lakukan sebelum akhirnya di operasi kecil. Mulai dari pemeriksaan awal, di ronsen, pengambilan darah dan masih banyak lagi. Semua proses saya lakukan dengan keadaan jarum masih ada di tenggorokan. Ronsen pertama jarum masih ada di tenggorokan dengan posisi yang tumpul diatas tepat sangat lurus, tetapi ronsen kedua menunjukan kalau jarum sudah mendekati paru-paru dan posisi yang miring.

    Saya takut sekali jika makin lama jarum tersebut ada di tenggorokan saya, malah akan menyebabkan hal yang lebih besar lagi. Tapi untunglah saya berhasil ditangani oleh para dokter itu. 4jam lamanya saya berada diruang operasi, dan alhamdulillah akhirnya jarum tersebut bisa dikeluarkan. Saya sangat bersyukur karena Alloh swt. memberi saya keselamatan dalam menjalani operasi. Karena kejadian itu, hingga saat ini saya menjadi phobia terhadap jarum pentul. Meskipun kejadiannya sudah sangat lama, tapi saya masih dapat merasakan bagaimana sakitnya saat jarum itu menusuk-nusuk tenggorokan saya.

Note : Saya harap ini menjadi pembelajaran pada yang membaca untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan jarum pentul, sebaiknya jangan digigit.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar